Pencak silat berasal dari seni bela diri nenenk moyang Nusantara yang diciptakan sebagai respon manusia dalam mempertahankan hidup menghadapi tantangan alam. Pencak silat bukan hanya tentang seni bela diri tradisional yang menggabungkan unsur fisik, mental dan spiritual dalam geraknya saja tetapi juga simbol dari nilai, adab dan jati diri bangsa.

Di tengah derasnya arus globalisasi, generasi muda bangsa Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menjaga identitas kulturalnya. Budaya asing yang kian mendominasi gaya hidup, hiburan, hingga pola pikir, sering kali membuat warisan budaya sendiri terpinggirkan. Kehadiran budaya luar sesungguhnya bukan hal yang harus ditolak, sebab interaksi antar budaya dapat membuka ruang pembelajaran dan kerja sama. Namun, yang lebih penting adalah kebijaksanaan dalam menyaring nilai-nilai baru tanpa kehilangan akar budaya sendiri. Oleh karena itu, pencak silat perlu dipertahankan dan dikembangkan, agar generasi muda tetap memiliki pijakan kuat di tengah arus modernisasi global.

Komeitmen dengan pernyataan tersebut, SMP Negeri 4 Malangbong dibawah dukungan Ibu Nenden Sri Rahayu K, S.Pd., M.Pd selaku kepala sekolah, bekerja sama dengan paguron Giri Pusaka Cakra Buana untuk menjalankan program ekstra kulikuler Pencak silat. Latihan dilaksanakan secara rutin dua kali dalam seminggu, yaitu setiap hari Rabu selepas pulang sekolah dan hari Sabtu dari pukul 08.00 – 11.00 WIB. Latihan dibagi kedalam beberapa sesi dari mulai berdoa, pemanasan, latihan fisik, materi pencak silat dan pendinginan. Tak jarang disela sela istirahat, terjadi diskusi hangat tentang perkembangan proses latihan. Hingga mampu membangun kedekatan secara personal antara pembina, pelatih dan peserta didik.

Mempelajari pencak silat tentu memiliki banyak manfaat. Dari segi fisik, siswa sebagai anggota ekstrakulikuler memperoleh ketahanan tubuh dan keterampilan bela diri. Sedangkan dari sisi mental, pencak silat mampu membentuk sikap disiplin, keberanian, tanggung jawab dan solidaritas. Selain sebagai sarana pembelajaran bela diri, kegiatan ini juga diarahkan untuk menjaring bakat-bakat unggul yang dipersiapkan menuju ajang kejuaraan seperti Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) dan harapan lebih jauhnya mampu mengikuti Kejuaraan Nasional Pencak Silat Remaja (Kejurnas).

Pada awalnya, kegiatan pencak silat di SMP 4 Malangbong hanya diikuti oleh sekitar 20 orang siswi perempuan. Namun seiring berjalannya waktu, minat siswa semakin meningkat hingga kini jumlah anggota bertambah menjadi 60 orang yang terdiri dari siswa laki-laki maupun perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa pencak silat semakin mendapat tempat di hati generasi muda sebagai wadah pengembangan diri yang positif.

Sebagai jilid akhir, perjuangan mempertahankan pencak silat bukan hanya soal melestarikan seni tradisional, melainkan juga membangun jalur prestasi sistematis generasi muda melaui platform yang digunakan untuk bersaing secara sehat dalam membuktikan kemampuan. Dengan demikian, pencak silat mampu menjadi penyeimbang antara mempertahankan warisan budaya bangsa dan membuka diri terhadap berbagai kemungkinan perkembangan global dengan lebih siap dan bertanggung jawab.

Penulis : Irma Rimayanti, S.Pd.

By Tim IT