Kamis, 24 Juli 2025 – Dalam upaya menciptakan budaya literasi yang kuat di lingkungan sekolah, SMPN 4 Malangbong kembali menyelenggarakan kegiatan rutin GEULIS FOURMALA (Gerakan Literasi) sebagai bagian dari penguatan karakter siswa melalui pembiasaan membaca, menulis, dan berdiskusi.




Kegiatan yang berlangsung sejak pagi ini melibatkan seluruh warga sekolah, mulai dari siswa kelas VII hingga kelas IX, para guru, hingga tenaga kependidikan. Dengan suasana yang kondusif dan tertib, para siswa berkumpul di halam kelas dan perpustakaan, membawa buku-buku pilihan baik fiksi maupun nonfiksi, untuk dibaca dan dipahami selama 15–30 menit pertama sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.




GEULIS bukan hanya sebatas membaca buku, tetapi juga mengajak siswa untuk menuliskan ringkasan bacaan, mengekspresikan pemahaman dalam bentuk cerita pendek, puisi, atau ulasan. Kegiatan ini dirancang untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, memperkaya kosakata, serta meningkatkan minat dan kecintaan terhadap dunia literasi.
Guru-guru turut andil dalam kegiatan ini dengan menjadi pendamping literasi di setiap kelas. Mereka tidak hanya memfasilitasi, tetapi juga memberikan arahan dan apresiasi terhadap hasil karya siswa. Beberapa kelas bahkan mengadakan sesi berbagi bacaan, di mana siswa diberi kesempatan untuk membacakan atau menceritakan ulang isi buku yang mereka baca di hadapan teman-teman sekelas.




Kepala SMPN 4 Malangbong, Ibu Nenden Sri Rahayu Kurniawati, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan GEULIS ini adalah bentuk implementasi dari Gerakan Literasi Sekolah yang dicanangkan oleh Kemendikbudristek. “Budaya literasi harus ditanamkan sejak dini. Tidak hanya sekadar membaca, tetapi juga memahami, menulis, dan berdiskusi. Ini bagian dari membentuk siswa yang berkarakter, kritis, dan cerdas dalam menyaring informasi di era digital,” ujar beliau.
Melalui GEULIS, SMPN 4 Malangbong berharap bisa mencetak generasi pembelajar yang tidak hanya pandai secara akademik, tetapi juga memiliki ketajaman literasi sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan. Dengan konsistensi dan dukungan dari semua pihak, budaya literasi akan terus tumbuh dan menjadi identitas sekolah.

